Memasuki dunia pasar modal adalah langkah besar menuju kebebasan finansial, namun perjalanan ini sering kali tidak semulus yang dibayangkan oleh para investor pemula. Salah satu tahap paling krusial dalam berinvestasi adalah proses memilih atau menyeleksi saham, yang sering dikenal dengan istilah screening saham. Di sinilah banyak pemula sering kali terjebak, karena minimnya pengalaman membuat mereka mengambil keputusan berdasarkan emosi atau informasi yang tidak akurat, alih-alih menggunakan data dan analisis yang objektif.
Proses screening sejatinya adalah filter untuk menyaring ribuan saham yang melantai di bursa agar tersisa beberapa pilihan terbaik yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan finansial Anda. Sayangnya, tanpa strategi yang benar, fitur screener canggih di aplikasi sekuritas manapun tidak akan membawa hasil yang optimal. Dalam artikel ini, kita akan membahas 10 kesalahan screening saham yang paling sering dilakukan oleh investor pemula, agar Anda dapat menghindarinya dan mulai membangun portofolio investasi yang lebih tangguh dan menguntungkan.
Kesalahan Screening Saham yang Sering Dilakukan Investor Pemula
1. Hanya Fokus pada Harga Saham yang “Murah” (Nominal Kecil)
Banyak investor pemula beranggapan bahwa saham dengan harga nominal Rp50 atau Rp100 per lembar adalah saham yang “murah” dan memiliki potensi kenaikan yang jauh lebih tinggi dibandingkan saham seharga Rp10.000. Kesalahan persepsi ini membuat mereka menyaring saham murni berdasarkan harga nominal terendah di pasar. Padahal, harga nominal sama sekali tidak mencerminkan nilai intrinsik dari sebuah perusahaan, melainkan hanya sekadar harga satuan dari lembar kepemilikan.
Faktanya, saham dengan harga Rp50 bisa jadi sangat mahal jika fundamental perusahaannya hancur dan terus merugi setiap tahun. Sebaliknya, saham dengan harga Rp10.000 bisa jadi sangat “murah” secara valuasi jika perusahaan tersebut mencetak laba bersih triliunan rupiah dengan pertumbuhan yang stabil. Oleh karena itu, screening saham sebaiknya tidak menggunakan batas harga nominal, melainkan menggunakan metrik valuasi seperti Price to Earnings Ratio (PER) atau Price to Book Value (PBV).
2. Mengabaikan Analisis Fundamental Perusahaan
Kesalahan fatal berikutnya adalah menyeleksi saham hanya berdasarkan pergerakan grafik harian tanpa peduli apa bisnis inti dari perusahaan tersebut. Investor pemula sering kali memasukkan indikator teknikal ke dalam screener mereka, namun lupa untuk memfilter kesehatan keuangan emiten. Akibatnya, mereka bisa saja membeli saham dari perusahaan yang sedang berada di ambang kebangkrutan hanya karena grafiknya terlihat sedang naik atau sedang ramai ditransaksikan.
Investasi saham pada dasarnya adalah membeli kepemilikan sebuah bisnis. Jika Anda tidak memfilter fundamentalnya, seperti melihat pertumbuhan Laba Bersih (Net Income), Pendapatan (Revenue), atau Margin Laba, Anda pada dasarnya sedang berjudi buta. Pastikan screener Anda selalu menyertakan kriteria dasar fundamental, seperti perusahaan harus mencetak laba positif selama minimal 3 tahun berturut-turut, untuk memastikan uang Anda ditanamkan pada bisnis yang sehat.
3. Terlalu Bergantung pada Rekomendasi “Influencer” (FOMO)
Di era media sosial saat ini, sangat mudah menemukan akun yang membagikan “rekomendasi saham pasti cuan” atau pamer screenshot keuntungan besar. Banyak pemula menggunakan screener bukan untuk mencari saham berdasarkan kriteria mandiri, tetapi hanya untuk memvalidasi saham-saham yang sedang di-pom-pom oleh influencer atau grup Telegram. Ini adalah fenomena FOMO (Fear of Missing Out) yang sangat berbahaya, di mana investor membeli saham di harga pucuk sesaat sebelum bandar mendistribusikan barangnya.
Screening saham seharusnya menjadi aktivitas independen yang membangun kemandirian berpikir Anda sebagai investor. Jika Anda terus-menerus memfilter saham berdasarkan seberapa sering kode saham tersebut disebut di media sosial, Anda akan kehilangan kendali atas portofolio Anda sendiri. Gunakanlah parameter yang logis dan angka-angka dari laporan keuangan asli, bukan sekadar opini atau rumor publik yang kebenarannya belum tentu bisa dipertanggungjawabkan.
4. Tidak Memperhatikan Likuiditas Saham
Investor baru sering kali girang ketika menemukan saham dengan valuasi yang sangat murah dan laba yang meroket di dalam hasil screening mereka. Namun, mereka lupa memasukkan parameter “Rata-rata Volume Perdagangan Harian” (Average Daily Volume) ke dalam screener. Hasilnya, mereka membeli saham lapis tiga yang sangat sepi peminat atau illikuid.
Masalah utama dari saham illikuid bukanlah pada saat membelinya, melainkan pada saat Anda ingin menjualnya. Ketika Anda membutuhkan uang tunai atau ingin merealisasikan keuntungan, Anda akan kesulitan menemukan pembeli di harga yang Anda inginkan (antrean bid kosong). Oleh karena itu, selalu tambahkan kriteria volume transaksi minimal harian (misalnya rata-rata transaksi di atas Rp5 Miliar per hari) saat melakukan screening saham untuk memastikan Anda bisa keluar-masuk pasar dengan mudah.
5. Melupakan Tren Industri dan Kondisi Makroekonomi
Sebuah perusahaan yang bagus bisa saja menderita jika industri tempatnya beralih sedang menghadapi tekanan besar atau regulasi baru yang memberatkan. Kesalahan pemula adalah melakukan screening secara bottom-up yang terlalu kaku tanpa melihat kondisi makroekonomi (pendekatan top-down). Misalnya, mereka bersikeras menyaring dan membeli saham perusahaan batu bara di saat tren dunia sedang gencar beralih ke energi terbarukan dan harga komoditas global sedang anjlok.
Meskipun rasio keuangan suatu emiten terlihat sempurna di screener, Anda tetap harus melakukan validasi silang dengan berita dan tren industri terkini. Jangan sampai hasil screening Anda merekomendasikan perusahaan penyewaan DVD di era streaming Netflix. Memahami arah suku bunga, inflasi, dan tren sektoral akan membuat hasil screening saham Anda jauh lebih relevan dan memiliki potensi pertumbuhan di masa depan.
6. Tidak Memiliki Kriteria Screening yang Konsisten
Seorang investor pemula sering kali berganti-ganti metode screening setiap hari. Hari Senin mereka memfilter saham berdasarkan dividen tertinggi, hari Rabu mereka mengubah filter mencari saham yang menembus moving average 200 hari, dan hari Jumat mereka mencari saham dengan PER terendah. Ketidakkonsistenan ini membuat portofolio menjadi tidak terarah dan berisiko tinggi, karena tidak ada strategi investasi yang jelas yang sedang dijalankan.
Kunci keberhasilan dalam menggunakan screener adalah menemukan satu atau dua formula yang sesuai dengan gaya Anda, lalu mengujinya secara konsisten dalam jangka waktu tertentu. Apakah Anda seorang Value Investor, Dividend Hunter, atau Growth Investor? Tentukan identitas Anda terlebih dahulu, buat parameter screening yang paten sesuai gaya tersebut, dan disiplinlah menjalankan kriteria tersebut terlepas dari seberapa fluktuatifnya kondisi pasar saat itu.
7. Mengabaikan Rasio Utang Perusahaan (DER)
Keuntungan besar sering kali membutakan mata investor terhadap risiko kebangkrutan. Saat menyeleksi saham, pemula sering memfokuskan screener mereka murni pada Return on Equity (ROE) atau laba per saham (EPS), namun lupa memasukkan rasio Debt to Equity Ratio (DER) ke dalam parameter pencarian. Padahal, perusahaan yang mencetak laba tinggi dari hasil berutang gila-gilaan adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja, terutama ketika suku bunga pinjaman naik.
Utang yang terlalu besar akan memakan laba perusahaan untuk membayar bunga, dan dalam skenario terburuk, berujung pada gagal bayar (default). Biasakan untuk selalu memasang batas maksimal rasio utang pada screener Anda. Sebagai aturan umum yang aman bagi pemula, carilah saham perusahaan dengan DER di bawah 1 (atau utang lebih kecil daripada modal bersihnya) untuk memastikan keamanan investasi jangka panjang.
8. Terjebak “Dividend Trap” (Hanya Melihat Yield Dividen)
Mendapatkan passive income dari dividen adalah impian semua investor. Oleh karena itu, banyak pemula mengatur screener saham mereka dengan satu kriteria utama: Dividend Yield tertinggi. Sayangnya, mereka sering terjebak dalam apa yang disebut Dividend Trap. Saham dengan yield dividen yang sangat tinggi (misalnya di atas 15%) sering kali terjadi bukan karena dividennya besar, melainkan karena harga sahamnya baru saja hancur atau turun drastis di pasar.
Selain itu, perusahaan bisa saja membagikan dividen besar dengan cara menjual aset penting atau berutang, yang jelas tidak berkelanjutan (unsustainable). Saat memfilter saham dividen, pastikan Anda juga mengecek Dividend Payout Ratio (DPR) untuk memastikan perusahaan menyisakan sebagian laba untuk ekspansi. Jangan lupa pula untuk memfilter riwayat konsistensi pembagian dividen selama 5 hingga 10 tahun terakhir, bukan hanya melihat hasil yield tahun ini saja.
9. Rawan Terjebak pada Saham “Gorengan”
Saham gorengan merujuk pada saham-saham berkapitalisasi kecil (saham lapis ketiga) yang harganya mudah dimanipulasi oleh sekelompok spekulan atau bandar. Kesalahan screening pemula adalah mencari saham dengan kriteria “Top Gainers” atau yang naik puluhan persen dalam satu hari. Mereka memasukkan parameter volatilitas tinggi dengan harapan bisa cepat kaya dalam semalam, yang justru menggiring mereka langsung ke sarang predator pasar modal.
Saham jenis ini mungkin bisa naik 35% hari ini, namun bisa anjlok tanpa henti (Auto Reject Bawah/ARB) berhari-hari kemudian, membuat uang Anda terkunci dan hangus. Untuk menghindari saham gorengan masuk ke dalam hasil screening Anda, batasi pencarian Anda pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar (Market Cap) menengah hingga besar, misalnya minimal Rp5 Triliun. Ini akan menyaring perusahaan-perusahaan berfundamental rapuh yang rentan digoreng.
10. Tidak Melakukan Evaluasi Berkala pada Hasil Screening
Banyak yang mengira bahwa setelah screener menghasilkan daftar saham dan saham tersebut dibeli, tugas mereka selesai. Mereka menerapkan mentalitas “Beli dan Lupakan”, tanpa menyadari bahwa kondisi perusahaan dapat berubah setiap kuartal seiring dengan dirilisnya laporan keuangan terbaru. Saham yang lolos kriteria screening Anda tahun lalu bisa jadi sudah tidak lagi memenuhi syarat pada tahun ini karena penurunan kinerja manajerial.
Investasi membutuhkan pengawasan yang rasional. Lakukanlah proses screening ulang terhadap saham-saham yang sudah ada di portofolio Anda setiap 3 atau 6 bulan sekali. Jika laba bersihnya tiba-tiba anjlok tak tertolong atau rasio utangnya melonjak drastis melampaui batas toleransi screener Anda, jadikan itu peringatan objektif. Evaluasi berkala ini mencegah Anda menahan saham “busuk” terlalu lama karena alasan emosional.
Kesimpulan
Proses screening saham adalah benteng pertahanan pertama bagi seorang investor pemula untuk melindungi modal mereka dari kejamnya pasar saham. Dengan menghindari ke-10 kesalahan screening saham di atas—mulai dari jebakan harga nominal murah, mengabaikan fundamental dan likuiditas, hingga tertipu dividend yield yang semu—Anda telah selangkah lebih maju dibandingkan mayoritas pelaku pasar lainnya. Menggunakan screener bukanlah tentang mencari saham ajaib yang akan meroket besok pagi, melainkan tentang menemukan perusahaan hebat dengan harga yang masuk akal dan tingkat risiko yang terukur.
Pada akhirnya, investasi saham membutuhkan perpaduan antara data kuantitatif dari screener dengan kebijaksanaan analisis kualitatif dari diri Anda sendiri. Teruslah asah parameter filter Anda, baca laporan keuangan, dan jangan mudah tergoda oleh tren sesaat. Disiplin, kesabaran, dan konsistensi adalah kunci utama untuk mencetak keuntungan yang berkelanjutan di pasar modal.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan screening saham? Screening saham adalah proses menyaring dan menyeleksi ribuan saham yang ada di bursa efek menggunakan kriteria tertentu (seperti rasio keuangan, kapitalisasi pasar, atau indikator teknikal) untuk menemukan beberapa saham yang paling sesuai dengan target dan strategi investasi Anda.
2. Aplikasi atau fitur apa yang bagus untuk pemula melakukan screening? Hampir semua aplikasi sekuritas resmi di Indonesia saat ini sudah menyediakan fitur screener bawaan. Selain itu, platform independen seperti RTI Business, Stockbit, atau TradingView sangat direkomendasikan karena memiliki parameter fundamental dan teknikal yang sangat lengkap dan mudah dimengerti oleh pemula.
3. Berapa nilai ideal untuk PER dan PBV saat melakukan screening saham fundamental? Sebagai acuan umum bagi investor penganut value investing, PER (Price to Earnings Ratio) yang dianggap murah biasanya di bawah angka 10 hingga 15. Sementara untuk PBV (Price to Book Value), angka di bawah 1 (atau maksimal di bawah 1.5) sering dianggap undervalued. Namun, nilai ini harus selalu dibandingkan dengan rata-rata di industri yang sama.


